“Demokrasi Nggak Butuh Caci Maki”: Bupati Batu Bara Ajak Anak Muda Ngobrol, Bukan Ribut

IMG-20260621-WA0034

Batu Bara,bberlayar.com  – Di tengah ruang aula yang penuh mahasiswa dan pemuda, Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian melempar kalimat yang langsung bikin ruang jadi hening:

 

“Penyampaian aspirasi tidak harus disertai caci maki.”

 

Kalimat itu jadi pembuka acara Edukasi Politik Kebangsaan “Menepis Apatisme, Merawat Demokrasi” yang digelar RIE Batu Bara di Kantor Bupati, Minggu 21 Juni 2026. Di panggung yang sama duduk dua nama besar: Wakil Ketua Baleg DPR RI Ahmad Doli Kurnia dan Komisioner KPU RI Betty Epsilon Idroos.

 

Tapi yang bikin acara ini beda bukan nama besarnya. Yang bikin viral adalah ajakan Bupati ke anak muda: jangan apatis, jangan diam, tapi juga jangan main hujat.

 

“Demokrasi Sehat Itu Ngobrol, Bukan Ribut”

Bupati Baharuddin bilang, demokrasi yang sehat itu sederhana: duduk bareng, dengar, hormat, cari solusi bareng.

 

“Bagaimana agar pemuda dan masyarakat tidak apatis? Salah satunya dengan membuka forum-forum diskusi. Komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat harus terus dirawat,” tegasnya.

 

Dia nyindir keras budaya debat kusir di media sosial yang seringnya cuma adu maki. Menurutnya, aspirasi boleh keras, tapi cara menyampaikannya harus tetap punya etika.

 

“Demokrasi yang sehat mengedepankan dialog, saling menghormati, serta mencari solusi bersama,” ujarnya.

 

Di akhir acara, Bupati juga menyerahkan tali asih ke anak-anak yang kembali sekolah lewat program RIE Batu Bara. Pesan tersiratnya jelas: merawat demokrasi dimulai dari merawat anak-anak biar nggak putus sekolah.

 

KPU & DPR RI: Demokrasi Itu Proses, Bukan Tujuan Akhir

Komisioner KPU RI Betty Epsilon Idroos mengingatkan, pemilu bagus saja nggak cukup.

 

“Demokrasi bukan titik akhir, tapi proses yang harus terus dievaluasi. Keberhasilannya diukur dari partisipasi masyarakat dan kesadaran politik sehari-hari,” katanya.

 

Wakil Ketua Baleg DPR RI Ahmad Doli Kurnia menambahkan, demokrasi hanyalah alat.

 

“Yang penting tujuannya: keadilan, kesejahteraan, kemajuan masyarakat. Jangan apatis. Demokrasi kita harus sesuai karakter bangsa—musyawarah, persatuan, gotong royong,” tegasnya.

 

Merakyat, Bukan Sekadar Seremoni

Acara ini dihadiri Ketua DPRD, KPU, Bawaslu Batu Bara, Ketua Pujakesuma, mahasiswa, dan pemuda lintas organisasi. Tapi yang paling disorot adalah interaksi langsung antara Bupati dan anak muda yang hadir.

 

Nggak ada jarak meja panjang. Nggak ada pidato panjang. Yang ada adalah ruang tanya jawab yang hidup.

 

Di tengah apatisme politik yang makin terasa di kalangan Gen Z, forum seperti ini jadi oase. Pesannya sederhana tapi menusuk: kalau nggak suka sistemnya, jangan diam. Masuk, bicara, kawal. Tapi jangan lupa sopan.

 

Acara ini jadi bukti kalau dialog antara pejabat dan rakyat masih bisa cair, asal ada niat buka ruang. Dan kalau pesan ini nyebar, bukan nggak mungkin Batu Bara jadi contoh daerah yang merawat demokrasi dari akar rumput.(*)