Editorial Media Berlayar  Ketika Pemberdayaan Turun ke Balai Desa: Pelajaran dari Tanjung Muda

CutPaste_2026-06-23_18-38-44-582

Selasa [23/6/2026], suasana Balai Desa Tanjung Muda, Air Putih, pecah oleh tawa. Bukan karena pidato panjang atau seremonial kaku. Tapi karena tarian India yang ditampilkan anak-anak penari cilik, disambut Ketua TP PKK Kabupaten Batu Bara Ny. Dr. H. Baharuddin Siagian dengan “saweran” ratusan ribu rupiah. Kadis PUPR B. Sinaga dan Camat Air Putih W.W. Azhari Sagala pun ikut larut.

Kejadian kecil ini terlihat sederhana. Tapi di sinilah letak kekuatan pemberdayaan yang merakyat: pemimpin yang mau turun, tertawa bersama, dan mengapresiasi sekecil apa pun usaha warga.

 

Desa Tanjung Muda memang bukan desa biasa. Ia ditetapkan sebagai desa percontohan dan pusat supervisi TP PKK Kabupaten Batu Bara. Tertib administrasi, evaluasi dasawisma, pencegahan KDRT, hingga pembinaan PHBS jadi menu rutin di sana. Bahkan TK PKK Tanjung Muda di Jl. Karya Utama Dusun III berjalan di bawah binaan PKK.

Ini bukti bahwa program pemberdayaan perempuan dan keluarga tidak harus menunggu anggaran miliaran atau gedung megah. Yang dibutuhkan adalah konsistensi pembinaan, kehadiran pemimpin, dan ruang bagi warga untuk merasa dilihat.

 

Yang menarik, kehadiran Ny. Baharuddin Siagian tidak berhenti pada seremonial. Ia menyaksikan langsung, memberi apresiasi spontan, dan membiarkan suasana cair. Di saat yang sama, PKK desa menunjukkan hasil kerja nyata: administrasi tertib, program pokok jalan, dan pendidikan anak usia dini berjalan.

 

Ini pelajaran penting untuk skala nasional. Banyak daerah punya program PKK, tapi sedikit yang benar-benar hidup sampai ke dasawisma. Tanjung Muda menunjukkan bahwa kunci ada pada tiga hal: pendampingan rutin dari kabupaten, komitmen camat dan kepala desa, serta keterlibatan aktif warga.

 

Pemerintah pusat terus mendorong penguatan ketahanan keluarga dan penurunan stunting. Tapi semua itu tidak akan jalan kalau PKK hanya jadi papan nama. Yang dibutuhkan adalah desa-desa seperti Tanjung Muda—tempat kader PKK berani berinovasi, dan pemimpin daerah berani turun tangan.

 

Adegan “saweran” untuk penari cilik mungkin terlihat sepele. Tapi di mata warga, itu adalah pengakuan. Bahwa kerja mereka dihargai, bahwa anak-anak mereka diperhatikan. Dan dari pengakuan kecil itulah tumbuh semangat gotong royong yang lebih besar.

 

Jika program pemberdayaan di seluruh Indonesia bisa sehidup ini, kita tidak perlu lagi bertanya mengapa stunting sulit turun atau partisipasi perempuan rendah. Jawabannya ada di balai desa, di tangan kader PKK yang diberi ruang, dan di pemimpin yang mau datang tanpa sekat.

 

Semoga Tanjung Muda bukan sekadar percontohan di atas kertas. Semoga ia menjadi cermin: bahwa pembangunan yang kuat dimulai dari keluarga yang sehat, tertib, dan bahagia.