PUISI UNTUK NEGERI SUMATERA PANTAI TIMUR
Puisi
Karya:Dahwir Suprianto Munthe
“BELANGA YANG MENDIDIH”*
Di ujung Timur Sumatera, ada sebuah negeri yang dijepit dua nadi kehidupan.
*Di timurnya, Selat Malaka berdebur.*
Setiap hari, lebih dari 160 kapal raksasa melintas. Membawa 40% barang dagangan dunia. Dari minyak, gas, sampai gandum. Inilah *Negeri Lintasan Selat Malaka*. Beranda depan NKRI. Etalase Indonesia di mata dunia. Di sinilah Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai berdiri menjaga pintu.
*Di baratnya, Bukit Barisan membenteng.*
Dari lerengnya mengalir sawit yang mengubah dunia, karet yang menggerakkan industri, dan kakao yang memaniskan Eropa. Inilah *Lintasan Bukit Barisan*. Tulang punggung ekonomi. Dapur yang tak pernah padam. Di sinilah Labura, Labusel, dan Labuhanbatu menanam harapan.
Leluhur kami menitipkan pepatah: *”Asam di gunung, garam di laut”*.
Dulu itu hanya kiasan. Hari ini itu data.
*Asam* itu sawit 1,2 juta hektar di gunung. *Garam* itu ikan 200 ribu ton di laut. Hulu kami kaya. Hilir kami kaya. Kami tidak kekurangan bahan. Kami hanya kekurangan kuali untuk memasaknya sendiri.
Maka lahirlah janji itu: *”Dalam Belanga Bertemu Jua”*.
Belanga adalah kuali besar orang Melayu. Tempat semua perbedaan dilebur jadi satu rasa.
Batubara yang kuning, Asahan yang abu, Labura yang orange, Labuhanbatu yang merah, Labusel yang hijau. Enam warna, enam bupati, enam ego. Tapi hari ini semua sudah masuk ke satu belanga: *Provinsi Sumatera Pantai Timur*.
Dan yang menyatukan bukan hanya para elit.
Ini gerakan yang lahir *”mulai puncak kesadaran sampai kesadaran rendah”*.
Dari profesor di kampus yang menghitung potensi fiskal, sampai nelayan di bagan yang menghitung hasil tangkapan. Dari bupati di kantor, sampai emak-emak di pasar yang menghitung harga beras. Semua kini satu hitungan: *SUMTIM HARGA MATI*.
Karena itu kami bukan membawa proposal.
Kami membawa takdir.
*”Menyongsong takdir Pemekaran Provinsi Sumatera Pantai Timur”* bukan kalimat harapan. Itu kepastian sejarah.
Belanga jutaan rakyat ini sudah di atas api.
Sudah mendidih.
Wahai wakil kami wahai Bapak Pemimpin kami
Tugas kalian bukan bertanya “perlu atau tidak”.
Tugas kalian hanya satu: *Mengangkat tutupnya dengan sebuah Undang-Undang.*
Sebab jika belanga yang sudah mendidih tidak segera dihidangkan,
ia akan tumpah.
Dan kalau tumpah, yang kepanasan bukan hanya kami.
*Sumatera Pantai Timur bukan meminta dilahirkan.*
*Sumatera Pantai Timur memberitahu bahwa ia sudah lahir.*
*Catat tanggalnya hari ini.Sejarah yang akan menguji kalian.






