Kemensos RI dan Pemkab Batu Bara Salurkan Bantuan Terintegrasi untuk Kelompok Rentan
Batu Bara,bberlayar.com – Kementerian Sosial Republik Indonesia bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Batu Bara menyalurkan rangkaian bantuan sosial dalam kegiatan Puncak Bakti Sosial Terintegrasi. Acara digelar di Aula A Kantor Bupati Batu Bara, Lima Puluh, Senin (6/7/2026).
Kegiatan ini menjadi contoh kolaborasi pusat-daerah dalam mempercepat penyaluran bantuan tepat sasaran kepada kelompok desil 1 dan 2, yakni masyarakat dengan kondisi ekonomi paling rentan.
Ragam Bantuan Disalurkan
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Kemensos melalui Sentra Bahagia Medan kepada Pemkab Batu Bara. Jenis bantuan yang disalurkan cukup beragam:
1. Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI)
2. Bantuan kewirausahaan dan kewirausahaan keluarga
3. Bantuan nutrisi
4. Alat bantu bagi penyandang disabilitas seperti kursi roda
5. Bantuan sandang
6. Bantuan tunggakan SPP dan perlengkapan sekolah
7. Program bebas pasung
8. Penguatan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Kekasih Jiwa
Selain bantuan dari pusat, Pemkab Batu Bara melalui Dinas Sosial juga menyalurkan bantuan tambahan kepada masyarakat yang terdata dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Fokus pada Desil 1 dan 2
Kepala Sentra Bahagia Medan, Teguh Supriyono, menjelaskan prioritas bantuan ditujukan agar masyarakat kelompok rentan dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan lebih baik.
“Melalui Asistensi Rehabilitasi Sosial ini, kami berharap beban hidup masyarakat desil 1 dan 2 menjadi lebih ringan. Bentuknya mulai dari alat bantu, kewirausahaan, hingga nutrisi. Kami akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah untuk memaksimalkan pelayanan sosial,” ujar Teguh.
Apresiasi Pemkab Batu Bara
Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian menyampaikan apresiasi kepada Menteri Sosial RI atas perhatian kepada warga Batu Bara.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Batu Bara, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Sosial. Kami berharap bantuan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” kata Bupati Baharuddin.
Wabup Syafrizal, Forkopimda, Ketua TP PKK Ny. Henny Heridawaty Baharuddin, serta kepala OPD turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Konteks Nasional: Perkuat Jaring Pengaman Sosial
Bakti Sosial Terintegrasi ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat untuk memperkuat jaring pengaman sosial di daerah. Dengan model kolaborasi antara Kemensos dan Pemda, penyaluran bantuan diharapkan lebih cepat, tepat sasaran, dan menyentuh langsung kelompok yang paling membutuhkan.
Pemkab Batu Bara menegaskan komitmennya untuk mengawal distribusi bantuan agar sampai ke 141 desa dan 10 kelurahan, serta memastikan data penerima terus dimutakhirkan sesuai DTSEN.(*)



![*Pemkab Batu Bara Salurkan Kursi Roda & Tongkat, Janji “Tak Ada Lagi Disabilitas yang Tertinggal”* *BATU BARA* – Lagi-lagi kabar baik datang dari daerah. Pemerintah Kabupaten Batu Bara melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak [Dinsos P3A] turun langsung menyalurkan bantuan kursi roda dan tongkat bagi penyandang disabilitas di dua kecamatan sekaligus. Aksi sosial itu digelar Rabu [24/6/2026] di Kecamatan Tanjung Tiram dan Kecamatan Datuk Lima Puluh. Bantuan diberikan kepada warga yang sebelumnya sudah mengajukan permohonan lewat desa dan kelurahan. Bagi penerima, bantuan sederhana ini berarti banyak. Satu kursi roda bisa membuat seorang ibu bisa lagi keluar rumah menemui tetangga. Satu tongkat bisa mengembalikan kemandirian seorang bapak untuk ke masjid dan pasar tanpa bergantung penuh pada orang lain. “Kami ingin memastikan penyandang disabilitas mendapatkan akses dan kesempatan yang sama untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri,” kata perwakilan Dinsos P3A di lokasi penyaluran. Penyerahan di Tanjung Tiram dilakukan langsung oleh Sekretaris Dinsos P3A bersama Lurah Tanjung Tiram. Sementara di Datuk Lima Puluh, tim Bidang Rehabilitasi Sosial yang turun ke lapangan. Yang menarik, program ini bukan bantuan sekali jalan. Di Tahun Anggaran 2026, Pemkab Batu Bara sudah menyiapkan alokasi alat bantu lain seperti alat bantu dengar dan kaki palsu. Semua diberikan setelah melalui proses asesmen agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Langkah ini sejalan dengan target pembangunan inklusif nasional: memastikan kelompok rentan tidak tertinggal dalam pembangunan. Ketika negara hadir bukan cuma lewat dokumen, tapi lewat barang yang bisa langsung dipakai, kepercayaan publik pun tumbuh. Dinsos P3A Batu Bara menyebut program rehabilitasi sosial ini akan berjalan berkelanjutan. Tujuannya jelas: meningkatkan mobilitas, produktivitas, dan partisipasi penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Di tengah banyaknya isu birokrasi yang jauh dari rakyat, aksi cepat dan menyentuh langsung kebutuhan dasar seperti ini jadi contoh yang layak ditiru daerah lain. Karena pembangunan berkeadaban dimulai dari hal-hal kecil yang membuat hidup warga jadi lebih layak. *Mengapa ini penting?* 1. *Tepat sasaran*: Bantuan diberikan setelah asesmen, bukan asal bagi-bagi. 2. *Berkelanjutan*: Bukan program musiman, tapi masuk dalam perencanaan APBD 2026. 3. *Inklusif*: Menunjukkan negara hadir untuk semua, termasuk penyandang disabilitas. Program ini bisa jadi model bagi kabupaten/kota lain yang ingin memperkuat perlindungan sosial tanpa banyak retorika. *Pemkab Batu Bara Salurkan Kursi Roda & Tongkat, Janji “Tak Ada Lagi Disabilitas yang Tertinggal”* *BATU BARA* – Lagi-lagi kabar baik datang dari daerah. Pemerintah Kabupaten Batu Bara melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak [Dinsos P3A] turun langsung menyalurkan bantuan kursi roda dan tongkat bagi penyandang disabilitas di dua kecamatan sekaligus. Aksi sosial itu digelar Rabu [24/6/2026] di Kecamatan Tanjung Tiram dan Kecamatan Datuk Lima Puluh. Bantuan diberikan kepada warga yang sebelumnya sudah mengajukan permohonan lewat desa dan kelurahan. Bagi penerima, bantuan sederhana ini berarti banyak. Satu kursi roda bisa membuat seorang ibu bisa lagi keluar rumah menemui tetangga. Satu tongkat bisa mengembalikan kemandirian seorang bapak untuk ke masjid dan pasar tanpa bergantung penuh pada orang lain. “Kami ingin memastikan penyandang disabilitas mendapatkan akses dan kesempatan yang sama untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri,” kata perwakilan Dinsos P3A di lokasi penyaluran. Penyerahan di Tanjung Tiram dilakukan langsung oleh Sekretaris Dinsos P3A bersama Lurah Tanjung Tiram. Sementara di Datuk Lima Puluh, tim Bidang Rehabilitasi Sosial yang turun ke lapangan. Yang menarik, program ini bukan bantuan sekali jalan. Di Tahun Anggaran 2026, Pemkab Batu Bara sudah menyiapkan alokasi alat bantu lain seperti alat bantu dengar dan kaki palsu. Semua diberikan setelah melalui proses asesmen agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Langkah ini sejalan dengan target pembangunan inklusif nasional: memastikan kelompok rentan tidak tertinggal dalam pembangunan. Ketika negara hadir bukan cuma lewat dokumen, tapi lewat barang yang bisa langsung dipakai, kepercayaan publik pun tumbuh. Dinsos P3A Batu Bara menyebut program rehabilitasi sosial ini akan berjalan berkelanjutan. Tujuannya jelas: meningkatkan mobilitas, produktivitas, dan partisipasi penyandang disabilitas dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Di tengah banyaknya isu birokrasi yang jauh dari rakyat, aksi cepat dan menyentuh langsung kebutuhan dasar seperti ini jadi contoh yang layak ditiru daerah lain. Karena pembangunan berkeadaban dimulai dari hal-hal kecil yang membuat hidup warga jadi lebih layak. *Mengapa ini penting?* 1. *Tepat sasaran*: Bantuan diberikan setelah asesmen, bukan asal bagi-bagi. 2. *Berkelanjutan*: Bukan program musiman, tapi masuk dalam perencanaan APBD 2026. 3. *Inklusif*: Menunjukkan negara hadir untuk semua, termasuk penyandang disabilitas. Program ini bisa jadi model bagi kabupaten/kota lain yang ingin memperkuat perlindungan sosial tanpa banyak retorika.](https://www.toko-sukses.com/wp-content/plugins/contextual-related-posts/default.png)


