ROBO-ROBO MEMPawah: NADI SEJARAH, SIMBOL PERSATUAN KALBAR

CutPaste_2026-08-13_09-29-34-960

MEMPawah, Kalimantan Barat – Di muara Kuala Mempawah, Rabu 12 September 2026, ribuan langkah kembali tertuju pada satu nama: Robo-Robo. Bukan sekadar festival, melainkan napas budaya Kalimantan Barat yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 28 Oktober 2016.

Tahun ini, Festival Robo-Robo Kabupaten Mempawah 2026 kembali digelar di bawah naungan Bupati Mempawah dr. Hj. Herlina, S.H., M.H dan Wakil Bupati Burdadi, S.H., M.Si. Hadir pula Gubernur Kalbar Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H, Anggota DPR RI Herlinawati, Wakil Bupati Sanggau, serta tamu kehormatan dari Majelis Raja-Raja Nusantara dan negara sahabat Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Pembukaan disambut meriah dengan tarian daerah Selodang Mayang Patih Gumantar.

Dari “Berlayar” Menjadi Ikon

Dalam bahasa Melayu Mempawah, robo-robo berarti “berlayar” atau “berpindah tempat”. Tradisi ini dilaksanakan setiap Rabu terakhir bulan Safar, mengenang tilas sejarah tahun 1737/1873: kedatangan Ratu Kusumba dan Pangeran Mas Surya Negara alias Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Ketapang ke Mempawah.

Ratu Kusumba, bergelar Ratu Sinuhun, adalah pewaris tahta Putri Cermin dari garis keturunan Panglima Sengaok. Ibunya Utin Indrawati adalah cucu Panglima Sengaok, dan ayahnya Sultan Muhammad Zainuddin dari Matan Tanjungpura. Sementara suaminya, Opu Daeng Manambon, adalah bangsawan Bugis Sulawesi Selatan. Dari perpaduan Dayak, Melayu, dan Bugis inilah berdiri Kerajaan Islam Amantubillah Mempawah 1740-1761 kerajaan Islam pertama di Mempawah.

 

Tanpa keduanya, tidak akan ada Keraton Amantubillah seperti sekarang. Itu sebabnya PYM Raja XIV Keraton Amantubillah, Raja Muda Wira Buana Muhammad Hifidz Adinugraha selalu menegaskan: Robo-Robo adalah jangkar identitas.

Rangkaian yang Sarat Makna

Rangkaian Robo-Robo bukan seremoni kosong. Ada Makan Seprahan bersama masyarakat tanpa memandang status, Doa Tolak Bala untuk keselamatan, Ritual Buang-Buang atau pelepasan puake, Kirab Keraton Amantubillah, hingga Ziarah ke Makam Ratu Kusumba dan Pangeran Mas Surya Negara.

 

Dari situ lahir 4 nilai utama:

1. Historis: Mengenang berdirinya Kerajaan Mempawah sejak era Patih Gumantar, Panglima Kodong, hingga Panglima Sengaok.

2. Religius: Dzikir dan doa tolak bala, meneladani keselamatan Nabi Muhammad SAW di bulan Safar dalam berdakwah.

3. Sosial: Mempererat persaudaraan lintas suku dan status melalui seprahan.

4. Ekonomi & Wisata: Menjadi agenda wisata budaya nasional yang menggerakkan UMKM dan pariwisata Kalbar.

 

Lebih dari Tradisi

Robo-Robo hari ini adalah bukti bahwa sejarah tidak pernah mati. Ia hidup, berjalan, makan bersama rakyat, dan berlayar lagi setiap tahun. Di tengah arus globalisasi, Mempawah memilih untuk tidak melupakan asal.

Robo-Robo bukan milik Mempawah saja. Ia milik Indonesia. Ia milik Nusantara. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini besar karena mampu menyatukan Dayak, Melayu, Bugis, dan semua anak bangsa dalam satu perahu.

 

Penulis: Gusti Fanani, S.IP

Sumber: Tua-tua Mempawah, Buku Lokal Mempawah, Academia Sejarah Keraton Mempawah M. Nasir & Ikhsan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Mempawah