Tajuk Editorial,MANDOR: PONDASI DARAH UNTUK INDONESIA MERDEKA
21.037 Nyawa Dihapus Jepang dalam Operasi Mandalay 1944

_Kolase Makam Juang Mandor: Monumen, Peta West Kalimantan 1944, Dokumentasi Eksekusi, Makam Masal, dan Potret Para Syuhada. FOTO: DOK. DISPARBUD MEMPAWAH & ARSIP NASIONAL_
Di Mandor, Kalimantan Barat, sejarah Indonesia ditulis dengan darah. Bukan 1.486 nyawa seperti klaim peneliti Jepang Suneo Ijeki, tapi 21.037 jiwa menurut arsip resmi daerah dan koran _Borneo Shimbun_ edisi 1 Juli 1944. Mereka adalah para sultan, raja, demang, kepala adat Dayak, dan cerdik pandai Kalbar yang sengaja dilenyapkan dalam satu operasi genosida bernama _Operasi Mandalay_.
Mengapa Mandor Jadi Titik Eksekusi?
Tahun 1943-1944, Jepang panik. Gerakan perlawanan tokoh daerah Kalbar menguat. Para raja, demang, kepala adat Dayak mulai membangun jaringan anti-penjajahan. Di saat bersamaan, Jepang mencium rencana Sekutu, Belanda, Inggris, dan Australia, untuk membentuk pemerintahan tandingan di Kalbar.
Jepang memilih jalan keji: _Operasi Mandalay_. Instruksinya jelas: “Tangkap semua penambahan sultan cerdik pandai di Kalbar, kumpulkan 1 titik untuk dihabiskan dalam 1x jalan.”
Mandor dipilih karena tahun 1944 statusnya adalah _afeeling_ Mempawah. Mempawah adalah kota sentral pelabuhan. Mandor berada di tengah hutan kopyang, ada lapangan terbang, ada penjara. Lokasi sempurna untuk jadi titik kumpul dan pembantaian masal seluruh korban se-Kalbar.
Daftar Korban: Elit Kalbar Dihabisi
Ini operasi pemusnahan sejarah daerah. Jepang fokus melenyapkan elit Melayu Kalbar.
Korban dari kalangan kerajaan:
Sultan Pontianak Syarif Muhammad Al Qadri ditangkap beserta 60 keluarga dan kerabatnya. Pola yang sama berlaku untuk Raja Mempawah, Raja Landak, Raja Sanggau, Raja Sukadana, Raja Sambas, dan Raja Kubu. Ditangkap satu keluarga besar, dihabisi tanpa sisa.
Korban dari kalangan intelektual:
Dr. Rubini, Dr. Sunaryo, Dr. Ismail, Dr. RM Diponegoro, dan ratusan cerdik pandai lainnya. Otak Kalbar dimatikan.
Jumlah korban versi arsip resmi: 21.037 jiwa. Versi peneliti Jepang hanya 1.486 orang dengan rincian pribumi 500, Tionghoa 864 jiwa, sisanya warga India, Eropa, dan Eurasia.
10 Makam Masal di Mandor
Makam Juang Mandor memiliki 10 lubang pembantaian. Makam ke-5 adalah yang terbesar. Di sanalah ribuan pejuang, raja, dan ulama Kalbar dikubur tanpa nisan, tanpa nama.
Mengapa Indonesia Harus Tahu Mandor?
1. Skala Genosida Terbesar di Indonesia: 21.037 nyawa dalam satu operasi.
2. Pemusnahan Sistematis Elit Daerah: Jepang tidak hanya membunuh orang. Jepang membunuh sejarah, membunuh kepemimpinan Kalbar dalam satu generasi.
3. Pondasi NKRI:Tanpa pengorbanan para sultan dan cerdik pandai Kalbar, peta Indonesia hari ini bisa berbeda.
“Bagi Kalbar, ini adalah operasi pemusnahan sejarah daerah. Semua sultan dieksekusi mati.”
_Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalbar_
Penutup: Jangan Lupakan Mandor
Mandor bukan sekadar nama kecamatan di Mempawah. Mandor adalah pondasi sejarah perjuangan daerah. Dari darah 21.037 syuhada Mandor, kita belajar bahwa kemerdekaan bukan hadiah. Ia direbut dengan nyawa para raja, ulama, dan rakyat biasa.
Saatnya Mandor masuk kurikulum sejarah nasional. Saatnya Indonesia mengingat bahwa tanpa Kalbar, proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan utuh.
Kunjungi Makam Juang Mandor. Ziarah, renungkan, dan teruskan perjuangan mereka.

Penulis: Fanani Gusti
Jurnalistik Berlayar Kab.Mempawah
Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Mempawah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalbar, Arsip _Borneo Shimbun_ 1 Juli 1944

Editorial Nasional | 2026
Catatan Redaksi: Gambar kolase di atas sudah mewakili 5 elemen kunci: Monumen Makam Juang, Peta jalur pembantaian 1944, dokumentasi eksekusi, bangunan makam masal, dan wajah para syuhada.






