EDITORIAL Tanggung Jawab Bukan Hanya Kata, Tapi Angka dan Aksi

CutPaste_2026-09-09_08-42-47-083

Musibah kebakaran di PT Evyap Sabun Indonesia, KEK Sei Mangkei pada Kamis (3/9/2026) telah merenggut 3 nyawa warga Kabupaten Batu Bara. Kepergian mereka meninggalkan duka yang dalam, dan juga pertanyaan besar: seberapa jauh tanggung jawab perusahaan dan negara kepada keluarga yang ditinggalkan?

 

Pada Selasa (8/9/2026), Bupati Batu Bara Dr. H. Baharuddin Siagian menyerahkan bantuan bersama PT Evyap dan BPJS Ketenagakerjaan. PT Evyap memberikan santunan Rp700 juta untuk setiap keluarga. BPJS Ketenagakerjaan menyerahkan santunan antara Rp295 juta hingga Rp518 juta, ditambah manfaat beasiswa pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi.

 

Kita apresiasi langkah ini. PT Evyap tidak hanya ikut hadir, tapi ikut serta bertanggung jawab. Kehadiran Bupati dan Forkopimda juga menegaskan bahwa negara tidak meninggalkan rakyatnya.

Namun di sinilah kita harus jujur mengupas lebih dalam.

 

1. Soal Beasiswa: Pantas Secara Aturan, Belum Pantas Secara Riil

Beasiswa BPJS Ketenagakerjaan maksimal Rp87 juta per anak sampai lulus kuliah. Secara aturan sudah sesuai Permenaker.

Tapi secara realita? Biaya kuliah 1 semester di PTN saja bisa Rp15 juta. Biaya hidup anak kos Rp2-3 juta/bulan.

Beasiswa ini hanya cukup sebagai “alas” agar anak tidak putus sekolah. Ia tidak akan cukup untuk mengantar anak-anak ini meraih masa depan yang layak tanpa orang tuanya.

 

2. Soal Tanggung Jawab: Seharusnya Tanggung Renteng

Musibah terjadi di kawasan industri. PT Evyap sebagai pemberi kerja wajib utama. Tapi PT Nirwana sebagai bagian dari ekosistem industri di Sei Mangkei juga seharusnya ikut bertanggung renteng.

Bertanggung renteng artinya: sama-sama merasakan, sama-sama meringankan. Bukan hanya secara hukum, tapi secara moral dan kemanusiaan.

 

Jika PT Nirwana turut menambah dana beasiswa, misalnya menjadi Rp50 juta/tahun/anak sampai lulus, maka itu baru pesan yang kuat. Bahwa keselamatan pekerja adalah prioritas bersama, bukan beban satu pihak saja.

 

Santunan dan beasiswa tidak akan mengembalikan ayah kepada anaknya. Tapi setidaknya, ia bisa mencegah duka kedua: kemiskinan dan putus sekolah.

 

Kepada PT Evyap, terima kasih atas tanggung jawabnya.

Kepada PT Nirwana, mari ikut hadir.

Kepada Pemerintah, teruslah mengawal agar standar K3 di kawasan industri tidak lagi menelan korban.

 

Karena setiap nyawa pekerja punya harga. Dan tanggung jawab tidak boleh dibagi setengah-setengah.

Batu Bara berduka. Dari duka ini, mari kita lahirkan komitmen baru: Tidak ada lagi pekerja yang mati sia-sia.

 

Redaksi “BERLAYAR”

9 September 2026