TAJUK EDITORIAL BERLAYAR Menghargai Pelayan Umat, 859 Penjaga Iman dan Tradisi di Batu Bara.

20260713_154015-768x433

TAJUK EDITORIAL BERLAYAR

 

Menghargai Pelayan Umat, 859 Penjaga Iman dan Tradisi di Batu Bara.

 

Pemerintah tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran orang-orang yang bekerja dalam diam. Mereka tidak muncul di panggung politik, tidak viral di media sosial, tapi jejaknya ada di setiap suka dan duka masyarakat.

 

Senin, 13 Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Batu Bara di bawah kepemimpinan Bupati Dr. H. Baharuddin Siagian SH,MSI, menyerahkan insentif kepada 859 orang pelayan keagamaan dan sosial: 265 Bilal Mayit, 473 Penggali Kubur, dan 121 Guru Mengaji. Masing-masing menerima Rp1.500.000 untuk alokasi tiga bulan, yang disalurkan melalui BAZNAS Batu Bara dengan dukungan dana hibah APBD 2026.

 

Angka itu bukan sekadar bantuan. Itu adalah pengakuan negara terhadap kerja-kerja kemanusiaan yang seringkali luput dari perhatian.

 

Bilal Mayit mengumandangkan adzan terakhir untuk mengantar saudara kita ke peristirahatan terakhir. Penggali kubur menggali tanah dengan keringat, bukan untuk dirinya, tapi untuk kehormatan orang lain. Guru mengaji menanamkan huruf demi huruf Al-Qur’an agar generasi tidak putus dari akarnya.

 

Tiga profesi ini adalah tiang tak terlihat dari kehidupan beragama dan bermasyarakat di Batu Bara. Tanpa mereka, banyak desa akan kehilangan rujukan iman, kehilangan orang yang mengurus jenazah, kehilangan tempat anak-anak belajar mengaji.

 

Komitmen Bupati Batu Bara jelas: _“Jangan sampai ada desa yang kekurangan Bilal Mayit, penggali kubur, dan guru mengaji.”_ Pernyataan ini penting. Karena membangun daerah bukan hanya soal jalan, jembatan, dan tambak. Membangun daerah juga berarti memastikan nilai, akhlak, dan kemanusiaan tetap hidup.

 

Tentu, Rp500.000 per bulan belum sepadan dengan pengabdian mereka. Tapi ini langkah awal. Ini sinyal bahwa pemerintah hadir, peduli, dan mau bersinergi dengan para pelayan umat.

 

BERLAYAR memandang, program ini harus dijaga keberlanjutannya. Bukan hanya sebagai bantuan musiman, tapi sebagai sistem penghargaan yang melembaga. Sekaligus menjadi motivasi bagi generasi muda untuk mau mengambil peran di bidang sosial keagamaan.

 

Karena pada akhirnya, daerah yang maju bukan hanya yang ekonominya tumbuh. Tapi juga daerah yang warganya saling mengurus, saling menghormati, dan saling memuliakan.

 

Batu Bara hari ini menunjukkan itu. Menghargai yang melayani, adalah cara paling terhormat untuk melayani masyarakat.