Objektif: Antara Kenyang Hari Ini dan Masa Depan Anak Batu Bara
TAJUK: Batu Bara Butuh Sekolah Rakyat atau MBG? Data BPS Jawab Mana yang Lebih Mendesak
Objektif: Antara Kenyang Hari Ini dan Masa Depan Anak Batu Bara
Dua program nasional lagi gencar dibahas: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat. Keduanya bagus, keduanya untuk rakyat. Tapi untuk Kabupaten Batu Bara, mana yang lebih mendesak? Data BPS Maret 2025 bisa jadi jawabannya.
Fakta di Batu Bara Hari Ini
BPS mencatat persentase penduduk miskin Batu Bara mencapai 10,10% atau 44.280 jiwa. Angka ini belum turun signifikan. Yang lebih mengkhawatirkan ada di sektor pendidikan.
Anak usia 7-12 tahun yang masih sekolah: 99,7%.
Usia 13-15 tahun: 95,36%.
Tapi di usia 16-18 tahun, angka itu jatuh ke 75,57%.
Artinya, hampir 1 dari 4 anak Batu Bara usia SMA putus sekolah. Risiko tertinggi terjadi di jenjang inilah. Alasannya klasik: ekonomi keluarga tidak kuat menahan biaya pendidikan yang makin naik.
Dua Program, Dua Fungsi Berbeda
MBG menjawab masalah gizi dan ketahanan pangan harian. Anak kenyang, bisa fokus belajar hari ini. Ini penting untuk mencegah stunting dan meningkatkan konsentrasi di kelas. Dampaknya langsung terasa dalam jangka pendek.
Sekolah Rakyat menjawab masalah akses dan biaya pendidikan jangka panjang. Sekolah berasrama gratis untuk anak miskin dan miskin ekstrem. Tidak ada SPP, tidak ada biaya asrama, tidak ada seragam. Anak bisa tamat SMA bahkan kuliah tanpa membebani orang tua. Dampaknya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Kenapa Batu Bara Lebih Butuh Sekolah Rakyat Sekarang?
1. APBD 2025 Sudah Lunasi Persiapan
Pemkab Batu Bara telah mengalokasikan dan melunasi biaya persiapan pembangunan Sekolah Rakyat. Artinya, dari sisi daerah tinggal tunggu eksekusi fisik dari Kemensos. Kalau tidak segera dibangun, anggaran persiapan berisiko mengendap.
2. Krisis Ada di Jenjang SMA
Data BPS jelas: partisipasi sekolah anjlok di usia 16-18 tahun. MBG bisa bantu anak SD-SMP, tapi yang benar-benar butuh “penyelamatan” adalah anak SMA yang terancam putus sekolah karena biaya. Sekolah Rakyat menyasar kelompok inilah.
3. Kemiskinan Struktural Butuh Solusi Struktural
Memberi makan itu penting. Tapi kalau anak tidak sekolah, 10 tahun lagi dia tetap miskin dan anaknya juga akan miskin. Sekolah Rakyat adalah intervensi struktural untuk memutus lingkaran itu.
Ini bukan soal memilih salah satu. Idealnya, Batu Bara butuh keduanya. Tapi dengan keterbatasan anggaran dan waktu, prioritas harus jelas.
Jika harus memilih berdasarkan data, Batu Bara lebih butuh fisik Sekolah Rakyat dibangun sekarang. Karena anak yang sudah putus sekolah tidak bisa menunggu. Mereka butuh tempat belajar gratis, bukan janji.
Pemerintah pusat dan daerah punya peluang emas. APBD sudah siap, data BPS sudah bicara. Yang kurang hanya keputusan cepat untuk mulai membangun.
Karena kenyang hari ini penting, tapi masa depan anak Batu Bara jauh lebih penting.
_Editorial Media Berlayar, 20 Juni 2026_






